Friday, July 5, 2013

SMK Berbasis Pesantren; Sebuah Alternatif Pendidikan


            SMK merupakan salah satu lembaga pendidikan yang pengadaannya sedang digalakkan oleh pemerintah. Berbagai pilihan program direalisasikan, mulai dari bidang IT, tata boga, tata busana, perhotelan, pariwisata, kesehatan, dan masih banyak pilihan bidang yang lainnya.
Pendidikan SMK itu sendiri bertujuan "meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, serta menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesional". Dari tujuan tersebut, diharapkan lulusan SMK memiliki skill yang benar-benar dapat diaplikasikan di dunia kerja ketika mereka telah menyelesaikan masa pendidikannya.
            Pada mulanya keberadaan SMK dipandang sebelah mata oleh sabagian kalangan masyarakat, imej bahwa SMK merupakan sekolah nomor dua & pencetak anak-anak nakal cukup sulit dihapus. Namun dengan berbagai media iklan yang ada, pemerintah cukup gencar mengiklankan SMK sebagai sekolah masa depan, sekolah pencetak tenaga kerja. Banyak figur-figur yang ditampilkan sebgai contoh orang-orang sukses yang alumni SMK.
            Sedikit banyak, pencitraan SMK yang dilakukan oleh pemerintah cukup berhasil, hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya animo masyarakat terhadap SMK. Banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya ke SMK dengan tujuan agar kelak ketika sudah lulus, anaknya menjadi tenaga yang memiliki skill dalam bidangnya. Tentu biaya pendidikannya juga lebih mahal dibandingkan sekolah-sekolah yang non kejuruan, karena proses belajar mengajar di SMK lebih banyak dilaksanakan praktek daripada di sekolah-sekolah non kejuruan.
Setidaknya ada tiga kelabihan dari pendidikan SMK ini, pertama, sistem pendidikan di SMK yang lebih mengutamakan praktek daripada teori melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi dalam setiap bidang yang ditekuninya; kedua, lulusan SMK ini dapat mengisi peluang kerja pada dunia usaha/industri, karena terkait dengan sertifikasi yang dimilikinya; ketiga, lulusan SMK juga dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sepanjang lulusan tersebut memenuhi persyaratan, baik nilai maupun program studi atau jurusan sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan.     

Ciri Khas Pendidikan di Pesantren
            Pesantren sebagai salah pendidikan khas Indonesia atau indigenous, memiliki potensi besar untuk dapat mencetak kader-kader yang memiliki kemandirian, moralitas, dan daya juang yang tinggi. Sebab pendidikan yang dilaksanakan di pesantren menggunakan sistem full day. Mulai dari bangun tidur di pagi hari sampai tidur lagi di malam hari semuanya telah terprogram.
Watak kemandirian akan diperoleh di pesantren, karena di pesantren para santri mengatur hidupnya secara mandiri. Jika di rumah ada orang tua yang mengurus segala keperluan anaknya, maka jika telah ada di pondok pesantren, santri harus mengurusnya secara mandiri. Mulai dari keperluan keuangan, kesehatan, pengaturan jadwal belajar & istirahat, dan lain sebagainya.
Moralitas santri akan terwujud dari sistem yang telah terbangun di pondok pesantren. Pendidikan moralitas tersebut setidaknya diperoleh dengan berbagai cara, antara lain: (1) ajaran agama yang setiap hari diperdengarkan di lingkungan pesantren; (2) ritual peribadatan yang menjadi sebuah budaya, baik dilakukan secara individual maupun secara berjamaah; (3) keteladanan dari figur-figur sentral di pesantren; (4) aturan-aturan (tata tertib) pesantren yang sebanarya merupakan pengejawantahan dari aturan-aturan dalam ajaran Islam.
Sedangkan daya juang akan terpatri pada jiwa santri dengan beratnya perjuangan yang harus dihadapi di pondok pesantren. Kebiasaan hidup sederhana juga merupakan salah satu aspek yang juga membantu lahirnya santri yang memiliki jiwa daya juang yang tinggi.
Dari paparan di atas, tampak bahwa pendidikan dan pembinaan yang dilaksanakan di pesantren lebih ditekankan kepada aspek soft skill (kesadaran yang membuat seseorang termotivasi dan pantang menyerah sehingga bisa menempatkan diri di tengah orang lain secara proporsional.

SMK Berbasis  Pesantren
Pengadaan SMK tidak hanya di kota-kota besar saja, tetapi di daerah-daerah yang dianggap mempunyai potensi, pendidikan SMK juga sudah mulai banyak berdiri. Bahkan di pondok pesantren juga telah banyak berdiri SMK dengan berbagai pilihan jurusan, misalnya di pondok pesanten Nurul Jadid dengan pilihan jurusan Teknik komputer & Jaringan, Multimedia, dan Rekayasa Perangkat Lunak. Selain itu di Wonorejo Pasuruan ada SMK Kesehatan Al-Yasini. Untuk SMK Tata Busana, telah ada di Pondok pesantren Darul Falah Temanggung Jawa tengah, dan masih banyak lagi SMK dengan berbagai jurusan yang ada di pondok pesantren.
            Upaya pemerintah dalam mengembangkan SMK dengan keterampilannya (life skill) dinilai telah cukup baik. Hal ini tampak dari mulai banyaknya produk-produk temuan anak negeri. Namun, keberhasilan tersebut hal itu harus dibarengi soft skill yang memadai sehingga memiliki sikap mental dalam beradaptasi dengan lingkungan. Karena pendidikan berbasis life skill  tanpa dilengkapi dengan unsur soft skill tidak akan melahirkan generasi yang berkualitas.
Seseorang yang memiliki life skill atau keterampilan tanpa sikap mental yang matang, mungkin saja tidak bersemangat dalam bekerja dan berkarya hanya karena ketidaksiapan mentalnya dalam menghadapi tantangan dan rintangan. Namun, bagi orang telah dibekali dengan pendidikan soft skill yang memadai maka dia akan menghadapi tantangan dan rintangan tersebut dengan berbagai alternatif solusi yang kreatif.
Untuk pengembangan soft skill, model pembinaan & pendidikan yang diaplikasikan semestinya menggunakan authentic learning, dimana peserta didik dihadapkan pada masalah yang nyata sehingga telah terbiasa dengan berbagai persoalan dalam hidup. Ketika mereka telah terbiasa dihadapkan dengan berbagai persoalan hidup akhirnya menjadikan mereka menjadi orang yang kreatif dalam mencari solusi permasalahan. Dilihat dari realitasnya pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang pola pendidikannya sangat identik dengan authentic learning.
Fenomena semakin banyaknya pondok pesantren yang mendirikan SMK, merupakan hal yang positif, karena pesantren yang menurut Gus Dur merupakan sub kultur masyarakat mau tidak mau harus merespon kebutuhan dari masyarakat secara umum, tentu semua itu disertai dengan adanya manajeman yang baik, sehingga kualias SMK yang ada di pesantren tidak kalah dengan SMK yang ada di luar pesantren.
            Perpaduan antara SMK dan pesantren yang masing-masing mempunyai keistimewaan akan melahirkan generasi-generasi yang benar benar handal dalam bidangnya. Pesantren dengan keunggulan soft skillnya dan SMK dengan keunggulan life skillnya akan menjadi solusi pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.  WaLlahu A’lam.


HIKMAH RAMADHAN DI PONDOK PESANTREN

           
            Ketika Ramadhan datang, pada umumnya umat Islam menyambut dengan sukacita, mangingat betapa istimewanya bulan ini. Banyak sekali peristiwa besar yang terjadi pada bulan ini, antara lain; bulan diturunkannya Al-Qur’an, terjadinya perang Badar yang mana dalam perang ini dengan izin Allah umat Islam mampu mengalahkan kaum musyrikin walaupun pasukan muslimin jauh lebih sedikit dari pada pasukan musyrikin. Disamping itu, pada bulan ini pula terjadi perpindahan qiblat dari Baitul Maqdis ke BaituLlah.
Selain itu pada bulan ramadan terdapat keistimewaan yang telah Allah janjikan, antara lain sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang artinya : "Jika datang bulan ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu." (HR. Bukhari Muslim). Adapula yang menyebut bulan ramadhan dengan sebutan bulan penuh bonus, karena dalam bulan ini semua amal saleh yang terwujud insyaaLlah akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, begitu pula perbuatan maksiat, maka dosanyapun juga dilipat gandakan. Bulan ini juga merupakan bulan istijabah, karena doa-doa yang terpanjat insyaLlah akan terijabahi dan yang tidak kalah pentingnya adalah pada bulan ini ada malam lailatul qadar yaitu suatu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Dengan adanya berbagai keistimewaan yang Allah anugrahkan pada bulan suci ini, sedikit banyak merubah sikap atau perilaku sebagian umat Islam, misalnya salatnya semakin rajin, minimal ada tambahan salat tarawih dan witir, intensitas mengaji Al-Qur’an juga semakin banyak baik itu yang dilakukan secara individual maupun yang dilakukan dengan cara tadarus di masjid atau mushala, pada sepuluh hari terakhir khususnya pada tanggal-tangal ganjil sebagian umat Islam menghabiskan malam-malamnya untuk beribadah agar memperoleh malam lailatul qadar. Disamping itu, lingkungan yang tercipta juga lebih kondusif daripada di luar Ramadhan, misalnya adanya larangan beroprasinya tempat-tempat hiburan, warung-warung makan dilarang membuka warungnya pada siang hari, acara-acara televisi cukup banyak yang menayangkan tontonan yang bernuansa religi. 
Namun realitas di atas tidak serta merta menjadi suatu rutinitas yang dilaksanakan secara jamak oleh umat Islam, karena rendahnya kesadaran, minimnya ilmu, dan lingkungan yang kurang mendukung yang menyebabkan tidak meratanya fenomena tersebut.

Memaknai Puasa
Secara etimologi puasa bermakana menahan, sedangkan dari sisi terminologis puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, bersetubuh dan lain sebaginya, dengan niat ibadah dimulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam.
Sah tidaknya puasa seseorang bisa dilihat dari dua sisi, yaitu sisi syari’at dan sisi hakikat. Dari sisi syariat seseorang dianggap sah puasanya apabila tidak melakukan hal-hal yang bisa membatalkan puasa secara syariat. Akan tetapi dari sisi hakikat, sesorang dianggap sah puasanya apabila mengikut sertakan semua anggota badannya untuk ikut berpuasa, baik anggota badan dzahir seperti mata, mulut, telinga, tangan & kaki, maupun anggota badan batin seperti akal & hati.
Menjaga diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa secara syariat lebih mudah dilakukan daripada menghindari hal-hal yang bisa megurangi nilai puasa secara hakikat. Misalnya manusia cenderung bisa menahan diri dari rasa lapar dan rasa haus ketika berpuasa, akan tetapi akan cukup sulit menghindari perbuatan ghibah dan fitnah, sifat hasud dan takabbur dan lain sebagainya
Singkatnya, ada banyak anggota badan manusia yang harus diajak pula untuk ikut serta menahan diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah demi sempurnanya kualitas puasa. Seperti puasa mata, puasa mulut, puasa telinga dan puasa hati.

Ramadhan di Pondok Pesantren
Pada hakikatnya menjalani Ramadhan dimanapun tempatnya tidak terkait secara langsung dengan sah tidaknya puasa seseorang, baik dilihat dari aspek syariat maupun hakikat. Akan tetapi jika melihat sifat dari iman manusia yang senantiasa bertambah dan berkurang (yazid wa yanqush), yang mana faktor lingkungan memiliki berpengaruh yang cukup signifikan, maka dipandang perlu untuk menciptakan atau memilih lingkungan yang kondusif dalam menjalani bulan Ramadhan.
Menjalani Ramadhan di sebuah lingkungan yang baik dalam hal ini pondok pesantren tentu saja akan sangat menguntungkan dalam menyempurnakan kualitas puasa seorang santri. Sebagaimana diketahui bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang salah satu tujuannya adalah untuk mendidik dan membina para santrinya agar terbiasa dalam melaksanakan rutinitas-rutintas yang baik yang sesuai denga jalur syariat. Setidaknya ada bebarapa hikmah yang bisa diperoleh oleh santri ketika menjalani Ramdahan di pondok pesantren.
Pertama dari segi ubudiyah. Santri yang menjalani Ramadhan di pondok pesantren, hampir bisa dipastikan kualitas ibadahnya lebih baik dari pada ketika berada di rumah masing-masing, baik ibadah puasanya maupun ibadah-ibadah lainnya. Hal ini terjadi karena lingkungan yang tercipta sangat kondusif bagi para santri. Semangat fastabiqul khairaat (berlomba-lomba dalam kebaikan) sangat terasa, sehingga seorang santri akan selalu terpacu untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadahnya melebihi (paling tidak menyamai) teman-teman sekitarnya.
Lingkungan yang kondusif antara lain terwujud dari meratanya semua santri melaksanakan ibadah puasa, sehingga akan ada rasa sungkan bagi sagi seoarang santri apabila tidak melaksanakan ibadah puasa. Dan adanya kegiatan-kegiatan yang telah terprogram, baik yang diwajibkan maupun yang sifatnya anjuran juga mendukung terciptanya lingkungan yang kondusif, seperti diwajibkannya shalat fardhu, shalat tarawih dan shalat witir secara berjamaah, pembagian jadwal tadarus Al-Qur’an yang dilaksanakan setiap malam secara bergiliran bagi semua santri, dianjurkannya melaksanakna qiyamul lail, dan lain sebagainya.
Selain itu, dibatasinya penggunaan fasilitas-fasilitas tertentu yang notabene lebih banyak mendatangkan hal-hal negatif daripada yang positif kepada para santri, juga turut serta menciptakan suasana yang kondusif. Seperti dibatasinya penggunaan handphone dan dilarangnya menonton televisi, karena besar kemungkinannya santri akan lebih memilih menonton televisi atau mengoprasikan handphone dari pada ikut kegiatan pesantren yang telah diwajibkan. Dan itulah fenomena yang umumnya terjadi ketika santri telah pulang ke rumah jika tidak disertai niat dan tekat yang kuat untuk berubah.
Kedua dari sisi keilmuan. Adanya budaya khataman kitab kuning dalam stiap bulan Ramadhan, menjadikan para santri semakin mengalami peningkatan keilmuan, khususnya dalam bidang ilmu agama. Karena harus diakui porsi pemahaman ilmu agama para santri walaupun berada di pondok pesantren semakin lama semakin berkurang, hal ini dikarenakan kebijakan dari pihak pemerintah dalam bidang pendidikan.
Budaya khataman ini merupakan salah satu tradisi pondok pesantren yang telah ada sejak zaman dahulu di berbagai pondok pesantren yang ada di Indonesia. Masing-masing pondok pesantren mempunyai kebijakan tersendiri terkait dengan khataman kitab ini, ada yang membebaskan kepada para santri untuk mengikuti khataman kitab apa dan kapada kiai/ustadz yang mana, namun ada pula pondok pesantren yang mengklasifikasikan pengajian kitab kuning menurut tingkat pendidikan para santri.
Ketiga dalam hal pembentukan karakter. Akan banyak sekali nilai-nilai yang bisa diperoleh oleh para santri ketika menjalani Ramadahan di pondok pesantren, antara lain kemandirian, kebersamaan, kedisiplinan, dan kesederhanaan. Jiwa kemandirian akan diperoleh dari kebiasaan pemenuhan kebutuhan diri secara mandiri. Misalnya jika di rumah segala kebutuhan terkait kesiapan sahur, berbuka dan kebutuhan yang lainnya sudah disediakan oleh orang tua, maka di pondok pesantren semuanya kebutuhan tersebut harus dilaksanakan secara mandiri. Sedangkan budaya disiplin bisa terwujud dari adanya keharusan bagi santri dalam mengikuti kegiatan-kegiatan di pondok pesantren, seperti salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, pengajian kitab kuning dan kegiatan-kegiatan yang lainnya.
Nilai- nilai kesederhaan akan terlihat dari menu yang disantap oleh para santri pada saat melaksanakan buka puasa dan sahur. Walaupun pengelola pondok ada yang menyediakan menu istimewa khusus Ramadhan, namun menu tersebut tentu saja lebih istimewa di rumah. Disinilah letak kesederhanaan yang sekaligus mengajarakan pada para santri untuk memiliki sifat qona’ah. Dan yang perlu menjadi catatan, walaupun menunya sederhana, namun karena dilaksanakan secara bersama-sama, maka akan menjadi nikmat dan nilai kebersamaan akan terasa. Kebersamaan juga tampak dari dilaksanakannya semua kegiatan secara bersama-sama baik itu kegiatan yang sifatnya ilmiah, ubudiyah maupun sosial.
Akhirnya, diharapkan hikmah yang telah terpatri dalam kalbu yang diperoleh selama masa pendidikan di bulan Ramadhan, khususnya ketika di pondok pesantren benar-benar mempunyai atsar yang kuat, sehingga menjadikan karakter kesantrian semakin mengakar pada jiwa setiap santri dimanapun mereka berada. WaLlahu A’lam

Wednesday, November 3, 2010

KONSEP INSAN KAMIL DALAM TASAWUF Antara Spiritualitas Dan Tanggung Jawab Sosial



PENDAHULUAN
Manusia merupakan kajian menarik yang penuh misteri, mengkaji tentang manusia tidak akan pernah ada habisnya. Dan yang menarik adalah menyangkut pencapaian kesempurnaan manusia.
Jalaluddin Rakhmat dalam sebuah pengantar (Murtadha Muthahhari, 1994) mengatakan bahwa manusia merupakan miniatur dari alam raya. Jika pada alam raya terdapat tiga tingkat alam yaitu : rohani, khayali, dan jasmani, maka pada manusia ketiga alam tersebut juga terwujud yaitu dalam bentuk ruh, nafs(diri), dan jism(tubuh). Tingkatan alam ini menunjukkan sejauh mana ia menyerap cahaya Tuhan. Roh adalah bagian yang paling terang dan jism adalah bagian yang paling gelap, sedangkan nafs adalah jembatan yang menghubungkan antara keduanya.
Abbas Mahmud al-Aqqad(1996) dalam buku Menggugat Tasawuf (H.M. Amin Syukur, 2002) mencoba merumuskan definisi Qur’ani bahwa manusia adalah makhluk yamg terbebani(mukallaf) dan makhluk yang diciptakan sesuai dengan bentuk(shurah) Tuhan atau dalam bentuk “copi”Nya. Definisi ini sesuai dengan sebuah hadits yang berbunyi :
إن الله خلق آدم على صورته
Pendefinisian manusia yang kadua ini sejalan dengan kejadian manusia dalam Ilmu Tasawuf. Al-Hallaj berpendapat bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani terdiri dari materi, sedangkan unsur rohani dari Tuhan, Karena itulah manusia mempunyai sifat kemanusiaan(nasut) dan ketuhanan(lahut) (R.A.Nicholson, 1969 dalam H.M. Amin Syukur, 2002).
Pandangan-pandangan tentang manusia juga lahir dari dunia barat. Nietzsche berpendapat bahwa seseorang bisa dikatakan sempurna ketika ia telah mendapatkan kekuasaan dan kebebasan secara penuh. Sedangkan menurut Arthur Schopenhauer manusia akan mencapai kesempurnaan ketika ia telah manamui kamatian. Kedua pendapat diatas jika dianalisis maka kan tampak kekurangannya yaitu unsur jasmani lebih ditonjolkan dan cenderung fatalistik, disamping itu kedua pendapat tersebut sangat dangkal dalam memahami eksistensi manusia.
Sedangkan jika ditinjau dari kacamata Islam, Karena manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani maka kesempurnaan manusia meliputi kedua aspek tersebut. Dari aspek jasmani sudah tampak kesempurnaan manusia disbanding makhluk Allah yang lain.Dalam kesempurnaan manusia ini aspek rohani lebih kuat pengaruhnya. Hal ini sesuai dengan konsep insan kamil dalam dunia tasawuf.
Dalam tasawuf kesempurnaan manusia merupakan kesempurnaan dari citra Ilahi Karen manusia diciptakan dalam bentuk Tuhan. Al Qur’an menegaskan bahwa manusia adalah wakil Tuhan di dunia ini untuk melaksanakan “blueprint”Nya membangun surga di dunia ini.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Insan Dan Kamil
Sebelum membahas tentang insan kamil ada baiknya jika kita terlebih dahulu memahami makna dari insan dan kamil secara terpisah.
Insan(manusia) adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sebaik-baiknya penciptaan. Sebagaimana firman Allah
لقد خلقنا فى أحسن تقويم
Masalah penciptaan manusia Al Qur’an telah menjelaskan secara global. Peoses kejadian manusia pertama(adam) dalam Al Qur’an dirumuskan dalam tiga konteks(Quraish Shihab, 1997)
· Bahan awal manusia dari tanah
· Bahan tersebut disempurnakan
· Setelah proses penyempurnaan selesai, ditiupkan kepadanya Ruh Ilahi (Q.S. Al-Hijr: 28-29 dan Shad: 71-72).
Secara biologis manusia mempunyai beberapa unsur antara lain: mineral termasuk didalamnya materi yang mengandung atom dengan segala dayanya, tumbuh-tumbuhan yaitu daya nabati antara lain makan(nutrition), tumbuh(growth), dan berkembang biak(reproduction), unsur hewan yang yaitu penginderaan(sense perception) dan gerak(harakah, locomation) (Mulyadhi Kartanegara, 2002). Disamping itu yang pasti dan harus dimiliki oleh manusia yaitu jiwa(daya) insani yang di sinilah terletak intelektualitas, moralitas, dan rasa seni. Ruhani adalah yang mengendalikan, dan memberikan visi dan nilai bimbingan-bimbingan kepada jiwa-jiwa nabati, hewani, dan insani (Ahmad Najib Burhani, 2002). Dari sini dapat di lihat bahwa manusia merupakan puncak evolusi yaitu manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan penuh.
Namun dari aspek spiritual manusia akan mencapai puncak evolusi ketika ia telah mencapai kesatuan dengan Tuhan. Peringkat manusia sebagai makhluk terbaik, termulia dengan kualitas fisik dan psikisnya diciptakan oleh Allah dengan tujuan tertentu anatara lain: agar manusia menjadi hamba(abid)Nya yang baik, sekaligus menjadi khalifah-Nya di muka bumi, serta bertanggung jawab terhadap apa yang diperbatnya selama hidup di dunia ini.
Sedangkan mengenai kata “kamil” Muthahhari (2001) membedakan antara sempurna(kamil) dan lengkap(tamam), keduanya erat kaitannya namun tidak sama persis. Perbedaannya adalah kta “lengkap” mengacu sesuai dengan rencana seperti rumah atau masjid. Bila suatu bagiannya belum selesai maka bangunan tersebut tidak lengkap(cacat). Tetapi sesuatu mungkin saja lengkap sekalipun ada kelengkapan lain yang lebih tinggi satu atau beberapa tingkat, dan itulah yang dinamakan “sempurna”. “lengkap” adalah kemajuan horisontal ke arah pengembangan yang maksimum, sedang “sempurna” adalah penanjakan yang vertikal ke tingkat yang maksimum.
Dari pengertian istilah yang di kemukakan oleh Muthahhari terlihat bahwa kesempurnaan itu bertingkat. Dengan demikian bila suatu kesempurnaan itu tercapai, maka masih ada kesempurnaan yang di atasnya sampai pada tingkat kesempurnaan yang sesungguhnya. Jika ada manusia yang sempurna maka pasti ada yang lebih sempurna. Dan kesempurnaan yang sesungguhnya hanya ada Yang Maha Sempurna (Yunasril Ali, 1997).
B. Konsep Spiritual Insan Kamil
Konsep insan kamil yang di ungkapkan oleh para tokoh tasawuf sebenarnya ada titik persamaannya yaitu bahwa manusia adalah sebagai wadah tajalli Tuhan atau manusia sebagai cermin Tuhan. Namun dari konsep-konsep yang ada ada sedikit perbedaan yang muncul, yang pasti perbedaan tersebut tidak bersifat esensial. Dibawah ini akan dibahas konsep insan kamil menurut beberapa tokoh tasawuf:
] Konsep al-Hallaj
Konsep al-Hallaj tentang insan kamil bermuara dari doktrin al-hulul, yang ketika hulul lidah al-Hallaj mengucapkan “Ana ‘l-Haqq”. Munurutnya manusia(adam) adalah sebagai penampakan lahir dari citra Tuhan yang azali kepada zat-Nya yang mutlak yang tidak mungkin di sifatkan itu. Lebih jauh al-Hallaj berpendapat bahwa Allah mempunyai dua unsur dasar yaitu sifat ketuhanan(lahut) dan sifat kemanusiaan(nasut), demikian juga manusia. Sehingga mungkin saja terjadi penyatuan antara Allah dan manusia dan hal itu akan terjadi ketika manusia telah membersihkan batinnya sehingga sifat-sifat kemanusiaan lebur ke dalam sifat-sifat ketuhanan, kejadian itu dinamakan hulul. Saat itulah manusia telah mencapai derajat kesempurnaanya.
Disamping itu al-Hallaj juga mengemukakan teori “Nur Muhammad(al-haqiqah al-Muhammadiyah) (Yunasril Ali, 1997). Baginya Nabi Muhammad mempunyai dua esensi. Pertama esensinya sebagai nur(cahaya) azali yang qadim yang menjadi sumber segala ilmu dan ma’rifat, pandangan ini sesuai dengan hadits qudsi yang mengatakan”Kalau bukan karenamu tidak akan ku ciptakan alam semesta ini”. Kedua Muhammad sebagai esensi baru yang terbatas dalam ruang dan waktu. Dan Nabi Muhammad adalah contoh manusia sempurna dalam Islam.
] Konsep Ibn ‘Arabi
Berbicara tentang Ibn ‘Arabi tidak akan lepas dari doktrin wahdatul wujud dengan tajalli Tuhan yang selanjutnya membawa kepada ajaran insan kamil. Mengenai insan kamil Ibn ‘Arabi berpendapat bahwa insan kamil adalah duplikasi Tuhan(nuskhah al-Haqq) (H.M.Amin Syukur, 2002).
Yang paling tampak kekamilannya di antara manusia adalah Nabi. Di belakang Nabi terdapat al-Haqiqah al-Muhammadiyah(kebenaran atau esensi Muhammad) yang merupakan kekuasaan kreatif Tuhan. Insan kamil adalah tujuan penciptaan, yang merupakan mikrokosmos yang merefleksikan keagungan Tuhan, makrokosmos. Karena para nabi adalah refleksi manusia sempurna maka mereka adalah wali(sahabat) Tuhan. Kualitas ini lebih tinggi daripada kualitas kenabian (Isma’il. R. al-Faruqi & Lois Lamya al-Faruqi, 1998).
Menurut Ibn ‘Arabi manusia mempunyai dua aspek. Jika menurut al-Hallaj manusia mempunyai dua unsur, maka Ibn ‘Arabi menggabungkan keduanya menjadi satu aspek yaitu aspek batin yang merupakan esensi, aspek ini disebut al-haqq. Dan yang kedua aspek luar yang merupakan aksiden desebut al-khalq. Semua makhluk dala aspek luarnya berbeda tapi dalam aspek batinnya satu, yaitu al-haqq (http:// media .isnet.org/islam/paramadina/konteks/tasawuf HN4.html).
Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
كنت كنزا مخفيا فأحببت أن عرف فخلقت الخلق فبي عرفوني
Dari hadits tersebut tampak bahwa Allah ingin dikenal maka di ciptakan-Nya makhluk, dan melalui makhluklah Allah dikenal. Dari sini semakin jelas bahwa manusia adalah tajalli Tuhan.
] Konsep al-Jili
Dalam kitabnya al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakhir wa al-Awa’il, al-Jili mengidentifikasi insan kamil dalam dua pengertian. Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkait dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak yaitu Tuhan. Kedua, insan kamil yang jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-safat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1997).
Al-Kamal(kesempurnaan) menurut al-jili(1975) (dalam H.M.Amin Syukur, 2002)mungkin dimiliki manusi secara potensial(bil quwwah), dan mungkin pula secara aktual(bil fi’li) seperti yang terdapat pada diri wali dan Nabi, namun intensitasnya berbeda-beda. Dan yang paling sempurna adalah Nabi Muhammad. Al-Jili juga menandaskan bahwa insan kamil merupakan mikrokosmos dan makrokosmos, jami’ al-haqaiq al-wujudiyah, qalbnya = arasy), aqalnya = qalam, nafsnya = lauh al-mahfudz, mudrikahnya = kaukab, al-qawiy = al-muharrikahnya = asy-syams, dan lain sebagainya.
Proses tajalli menurut konsep al-Jili sebenarnya di mulai dari tajalli Dzat pada Sifat dan Asma kemudian pada perbuatan-perbuatan sehingga tercipta alam semesta. Akan tetapi dalam rangka meningkatkan martabat rohani, tajalli tersebut di tempatkan pada urutan terbalik, di mulai tajalli perbuatan-perbuatan(tajalli al-af’al), tajalli nama-nama(tajalli al-asma’), tajalli sifat-sifat(tajalli al-shifat), dan yang terakhir tajalli dzat(tajalli al-dzat) (Yunasril Ali, 1997).
Al-Jili mempunyai konsep tanazul(turun) dan taraqqi(pendakian). Dalam pengalaman al-Jili proses tanazul Tuhan mengambil tiga tahap yaitu ahadiyah, huwiyah dan aniyah. Pada tahap ahadiyah Tuhan dalam keabsolutan-Nya baru keluar dari al-‘ama, kabut kegelapan, tanpa nama dan sifat. Pada tahap hawiyah nama dan sifat Tuhan telah muncul, tetapi masih dalam bentuk potensial. Pada tahap aniyah, Tuhan menampakkan diri dengan nama dan sifat-sifat-Nya pada makhluk-Nya. Dan tajalli Tuhan yang paling sempurna terdapat pada insan kamil (http://media .isnet.org/islam/paramadina/konteks/tasawuf HN4.html).
Untuk mencapai tingkat insan kamil sufi mesti mengadakan taraqqi melalui tiga tingkatan yaitu: bidayah, Tawassuth, dan khitam. Pada tingkat bidayah seseorang mulai dapat merealisasikan asma-asma dan sifat-sifat Tuhan. Pada tingkat tawassuth seseorang tampak sebagai orbit kehalusan sifat kemanusiaan dan sebagai realitas kasih saying Tuhan. Dan pada tingkat khitam seseorang telah dapat merealisasikan citra Tuhan secara utuh (Yunasril Ali, 1997). Pada tingkat inilah seorang sufi menjadi insan kamil (http://media .isnet.org/islam/paramadina/konteks/tasawuf HN4.html).
] Konsep Nuruddin al-Raniri
Insan kamil bagi al-Raniri adalah hakikat muhammad, merupakan hakikat pertama yang lahir dari tajalli Satu Dzat kepada dzat yang lain(Allah dengan Nur Muhammad). Hakikat Muhammad itu menghimpun seluruh kenyataan yang ada, karena seluruh alam ini merupakan wadah bagi Asma dan Dzat Allah. Dari sini posisi insan kamil menjadi penting bagi bagi semua keberadaan alam ini dan sekaligus sebagai cermin Allah untuk melihat hasil perjalanannya (H.M.Amin Syukur, 2002). Jadi seseorang bisa dikatakan insan kamil ketika dia telah memiliki Nur Muhammad dalam dirinya, yang dengan itu menjadi wadah tajalli Ilahi yang paripurna.
Selain itu insan kamil juga disebutnya sebagai khalifah Allah pada rupa dan makna.Yang dimaksud dengan dengan rupa adalah pada hakikat wujudnya. Wujud khalifah itu terjadi dari wujud Allah yang menciptakannya sebagai khalifah. Dengan kata lain, dia diciptakan dari sebab wujud-Nya (Nur ad-Din ar-Raniri, 2003).
C. Insan Kamil dan Tanggung Jawab Sosial
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa insan kamil merupakan wadah tajalli Tuhan yang paling paripurna. Oleh karena apa-apa yang ada pada insan kamil tentunya sudah dapat di jamin kesempurnaannya. Karena tidak mingkin manifestasi Tuhan bersifat tidak sempurna, walaupun sebagaimana yang di katakana Muthahhari tingkat kesempurnaan insan kamil sifatnya bertingkat-tingkat.
Sudah di akui bahwa timgkatan insan kamil tertinggi ada pada Nabi Muhammad, baik kapasitasnya sebagai al-haqiqah al-Muhammadiyah maupun sebagai utusan Allah untuk umat manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu.
Nabi Muhammad sebagai insan kamil dalam kehidupannya di dunia merupakan suatu pribadi yang multi dimensi. Nabi Muhammad di kenal sebagai seorang nabi yang ibadahnya luar biasa kuat, sehingga kalau malam shalat sampai kakinya bengkak. Tapi di siang hari beliau mengatur ekonami, mengatur polotik bahkan mengatur perang. Rasulullah dan para sahabat di zaman Rasul sering digambarkan sebagai ruhbanun bi al-lail wa fursanun di al-nahar, mereka itu rahib-rahib di waktu malam hari dan kstria-ksatria di siang hari (Ahmad Najib Burhani.(ed.), 2002).
Kesempurnaan Nabi Muhammad di akui oleh dumia, tidak hanya dari satu kalangan saja. Karen Amstrong seorang ilmuan barat mencoba meneliti agama Islam dengan meneliti tokoh utamanya, Nabi Muhammad. Ketika melaporkan tentang beliau, ia menjadi seorang pambela yang luar biasa. Karen mengatakan (dalam Jalaluddin Rakhmat, 1997) menjelang tahun 622 tampak sudah seakan-akan kehendak Tuhan akan terjadi di Arabia. Berbeda dengan nabi-nabi terdahulu Muhammad bukan saja mengajarkan laki-laki dan perempuan tentang visi dan harapan baru, tetapi ia juga telah berusaha nemikul tugas untuk memyelamatkan sejarah manusia dan menciptakan masyarakat yang adil, yang memberikan peluang kepada setiap manusia laki-laki dan perempuan untuk mengaktualisaikan potensinya yang sebenarnya. Dari sini tampak bagaimana peran nabi dalam kehidupan sosialnya.
Gambaran lain dari potret seorang insan kamil adalah Imam Ali bin Abi Thalib. Oleh Jalaluddin Rakhmat (1999) digambarkan bahwa pada dirinya kita melihat sufi yang rela hidup dalam kefakiran, tetapi pada saat yang sama membenci kefakiran. Dari pribadinya sebagian orang akan beranggapan bahwa kemiskinan adalah kebajikan dan kekayaan adalah kemaksiatan. Tetapi dari kepribadiannya pula sebagian yang lain melihat kesungguhan untuk melenyapkan kemiskinan, dan meyakini bahwa kemiskinan adalah musuh yang harus di musnahkan.
Dalam hal insan kamil ini Iqbal tidak sepaham dengan konsep-konsep terdahulu. Menurutnya konsep-konsep tersebut akan membunuh individualitas dan melemahkan khudi(jiwa). Iqbal sepakat bahwa Nabi Muhammad adalah insan kamil, tetapi tanpa penafsiran secara mistik. Insan kimil versi Iqbal tidak lai adalah sang mukmin yang di dalamnya terdapat kekuatan, wawasan, perbuatan dan kebijaksanaan. Yang merupakan makhluk moralis, yang di anugarahi kemamapuan rohani dan agamawi. Untuk menumbuhkan kekuatan yang ada dalam dirinya, sang mukmin senantiasa meresapi dan menghayati akhlak Ilahi (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1997).
Menurut Iqbal proses lahirnya insan kamil melalui tiga tahap yaitu: pertama, ketaatan pada hukum. Kedua, penguasaan diri sebagai bentuk tertinggi kesadaran diri tentang pribadi. Ketiga, kekhalifahan Ilahi (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1997).
Sering kali dalam memahami tasawuf terjadi kesalah pahaman di dalamnya. Dunia sufi di pahami tak lebih dan tak kurang sebagai tempat suaka psikologi belaka, dengan melupakan dahwa di dunia sufi juga mengerek pesan-pesan solidaritas sosial (Muhy-i al-Din, 2001).
Secara garis besar amal saleh terbadi menjadi dua bagian. Pertama, amal saleh kepada Allah (hablun min Allah) yang disebut juga ibadah mahdlah. Kedua, amal saleh untuk sesama manusia (hablun min al-nas) yang disebut juga ibadah ghoiru mahdlah. Dan yang menarik adalah bahwa hubungan kemanusiaan (muamalah) sangat menetukan ibadah mahdlah. Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits yang menunjukkan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang membawa kemaslahatan kepada umat manusia. Hadits tersebut berbunyi :
خير الناس أنفعهم للناس
PENUTUP
Konsep insan kamil merupakan salah satu kajian dalam dunia sufi yang cukup besar menarik perhatian berbagai kalangan. Insan kamil merupakan wadah tajalli Tuhan yang paling sempurna. Posisi insan kamil tidak hanya di tempati oleh satu orang tertentu, tetapi setiap orang berpotensial untuk mencapai derajat insan kamil ketika dia telah mampu memantulkan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan dan telah mencapai kesadaran secara penuh mengenai kesatuan hakikatnya dengan Tuhan.
Dan yang paling tinggi tingkatannya adalah Nabi Muhammad, dengan tanpa menutup kemungkinan bahwa masih ada manusia-manusia lain yang bisa saja sampai pada derajat insan kamil. Namun yang bisa sampai pada tingkatan khitam yaitu tingkatan tertinggi dalam derajat insan kamil hanya satu yaitu Nabi Muhammad.
Jika di lihat, Nabi Muhammad yang merupakan manusia yang paling sempurna ternyata merupakan makhluk multi dimensi. Artinya dalam hal spiritual tidak ada yang mampu melebihi Nabi, namun disamping itu dalam kehidupan sosialnya Nabi adalah manusia yang sangat perduli terhadap kondisi masyarakatnya, bahkan beliau rela mengorbankan diri, keluarga, dan hartanya untuk kepentingan sosial.
Seorang muslim sudah selayaknya mengetahui tentang apa itu insan kamil, kepribadian dan intelektualnya. Agar dapat membangaun dirianya dan masyarakatnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Najib Burhani(ed.), Manusia Modern Mendamba Allah: Renungan Tasawuf Positif, IIMaN, Jakarta, 2002
Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: sufisme dan tanggung jawab sosial abad 21, Pustaka Pelajar, Yogayakarta, 2002
Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas, P.T. Raja Grafindo Persd, Jakarta, 1999
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1997
Isam’il Raji’ al-Faruqi & Lois Lamya al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Mizan, Bandung,1998
Jalaluddin Rakhmat, Reformasi Sufistik: Halaman Akhir “Fikri Yathir”, Pustaka Hidayah, Bandung, 1997
________________ , Iskam Alternatif: Ceramah-ceramah di Kampus, Mizan, Bandung, 1999
M. Quraish Syihab, Wawasan Al Qur’an, Mizan, Bandung,1997
Muhy-i al-Din, Jalan Menuju Hikmah: Mutiara Ihya’ al-Ghazali Untuk Orang Modern, Kreasi Wacana, Yogyakart, 2001
Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam, Mizan, Bandung, 2002
Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna: Pandangan Islam Tentang Hakikat Manusia, Lentera, Jakart, 1994
Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi: Pengembangan Konsep Insan Kamil Ibn ‘Arabi oleh al-Jili, Paramadina, Jakarta, 1997
http://media.isnet.org/islam/paramadina/konteks/SempurnaDiri.html

IPTEKS DALAM ISLAM: Antara Konsep dan Realitas


A. Pendahuluan
Manusia selain diciptakan sebagai ‘abdullah ia juga diutus sebagai khalifatullah yang notabene adalah tujuannya untuk menjadi pemimpin di dunia beserta isinya ini sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah, baik itu yang tersurat dalam Al Qur’an dan Al Hadits mupun yang tersirat dalam Sunnatullah (fenomena alam). Dengan kata lain dalam Islam harus ada keserasian antara imtaq yang berorientasi kepada ‘abdullah yaitu zikir dan iptek yang berorientasi kepada khalifatullah yaitu fikir.
Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Banyak disebutkan dalam Al Qur’an ayat-ayat yang menganjurkan manusia untuk senantiasa mencari ilmu. Allah senantiasa meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, sebagaimana telah dijelaskan dalam surat al-Mujadalah ayat 11:
.........يرفع الله الذين ءامنوا منكم والذين أوتو العلم درجات (المجادلة: 11)
Yang terpenting adalah ilmu itu tujuannya tidak boleh keluar dari nilai-nilai islami yang sudah pasti nilai-nilai tersebut membawa kepada kemaslahatan manusia. Seluruh ilmu, baik ilmu-ilmu teologi maupun ilmu-ilmu kealaman merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan selama memerankan peranan ini, maka ilmu itu suci.[1]
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan konsekuensi dari konsep ilmu dalam Al Qur’an yang menyatakan bahwa hakikat ilmu itu adalah menemukan sesuatu yang baru bagi masyarakat, artinya penemuan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui orang.[2] Dijelaskan dalam surat al-'alaq
علّم الإنسان مالم يعلم (العلق: 5)
Jadi pada hakikatnya umat Islamlah yang paling berkewajiban untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai tanda ketaatannya terhadap Allah SWT.
Namun satu fenomena yang paling memilukan yang dialami umat Islam seluruh dunia saat ini adalah ketertinggalan dalam persoalan iptek, padahal untuk kebutuhan kontemporer kehadiran iptek merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar, terlebih-lebih iptek dapat membantu dan mempermudah manusia dalam memahami (mema’rifati) kekuasaan Allah dan melaksanakan tugas kekhalifahan. [3]
Realitas tersebut sebenarnya tidak akan terjadi jika umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang hakiki. Untuk itulah sudah saatnya umat Islam bangkit untuk mengejar ketertinggalannya dalam hal iptek, karena sebenarnya dalam sejarah dijelaskan bahwa umat Islam pernah memegang kendali dalam dunia intelektual, jadi sangat mungkin jika saat ini umat Islam bangkit dan meraih kembali kejayaan Islam tersebut.
Pada makalah ini akan dipaparkan apa itu ipteks, konsep dan realitasnya dalam Islam. Dan didalamnya juga akan dipaparkan rencana kerja guna memajukan ipteks dalam dunia Islam.
B. Pengertian Ipteks
Mengenai kata Ipteks orang berbeda pendapat, ada yang menganggap merupakan singkatan dari dua komponen yaitu “ilmu pengetahuan” dan “teknologi” dan ada pula yang memasukkan unsur seni di dalamnya sehingga singkatannya menjadi ipteks.
Mengenai definisi ilmu pengetahuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang di susun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat.[4]
Lebih jauh Zalbawi Soejati mendefinisikan ilmu pengetahuan atau sains sebagai sunnatullah artinya adalah ilmu yang mengarah perhatiaannya kepada perilaku alam (bagaimana alam bertingkah laku).[5]
Menurut Ali Syariati dalam buku Cakrawala Islam yang ditulis oleh Amin Rais, Ilmu adalah pengetahuan manusia tentang dunia fisik dan fenomenanya. Ilmu merupakan imagi mental manusia mengenai hal yang kongkret. Ia bertugas menemukan hubungan prinsip, kausalitas, karakteistik di dalam diri manusia, alam, dan entitas-entitas lainnya.[6]
Sedangkan kata teknologi berasal dari bahasa Yunani "teknikos" berarti "teknik". Apabila ilmu bertujuan untuk berbuat sesuatu, maka teknologi bertujuan untuk membuat sesuatu. Karena itu maka teknologi itu berarti suatu metode penerapan ilmu untuk keperluan kehidupan manusia.[7]
Menurut Zalbawi Soejati, teknologi adalah wujud dari upaya manusia yang sistematis dalam menerapkan atau memanfaatkan ilmu pengetahuan / sains sehingga dapat memberikan kemudahan dan kesejahteraan bagi umat manusia.[8]
Dari beberapa definisi tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan merupakan kumpulan beberapa pengetahuan manusia tentang alam empiris yang disusun secara logis dan sistematis. Sedangkan Teknologi merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan tersebut, yang tujuan sebenarnya adalah untuk kemaslahatan manusia.
Untuk definisi seni, dalam Ensiklopedia Indonesia diartikan sebagai penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), penglihatan (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama).[9]
Berbicara mengenai seni, identik dengan istilah estetika yaitu cabang filsafat yang berurusan dengan keindahan, entah menurut realisasinya entah menurut pandangan subyektif.[10]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seni identik dengan rasa yang timbulnya dari dalam jiwa, namun demikian gejala keindahan yang ditimbulkan oleh seni bisa juga didekati dari sudut sains. Sebuah lukisan misalnya dapat dianalisa menurut pembagian bidang, jadi menurut matematika. Komposisi warna dapat dianalisa secara eksperimental menurut efek psikologis.
C. Konsep Ipteks Dalam Islam
Sudah menjadi pemikiran yang umum bahwasanya agama yang identik dengan kesakralan dan stagnasi tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan ipteks yang notabene selalu berkembang dengan pesat. Namun pemikiran ini tidak berlaku lagi ketika agama tidak hanya dilihat dari ritualitas-ritualitas belaka namun juga melihat nilai-nilai spiritualitas yang hakiki.
Menurut Harun Nasution, tidak tepat anggapan yang mengatakan bahwa semua ajaran agama bersifat mutlak benar dan kekal. disamping ajaran-ajaran yang bersifat absolut benar dan kekal itu terdapat ajaran-ajaran yang bersifat relatif dan nisbi, yaitu yang dapat berubah dan boleh diubah. Dalam konteks Islam, agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, memang terdapat dua kelompok ajaran tersebut, yaitu ajaran dasar dan ajaran dalam bentuk penafsiran dan penjelasan tentang perincian dan pelaksanaan ajaran-ajaran dasar itu.[11]
Allah SWT. menciptakan alam semesta dengan karakteristik khusus untu tiap ciptaan itu sendiri. Sebagai contoh, air diciptakan oleh Allah dalam bentuk cair mendidih bila dipanaskan 100 C pada tekanan udara normal dan menjadi es bila didinginkan sampai 0 C. Ciri-ciri seperti itu sudah lekat pada air sejak air itu diciptakan dan manusia secara bertahap memahami ciri-ciri tersebut. Karakteristik yang melekat pada suatu ciptaan itulah yang dinamakan “sunnatullah”. Dari Al Qur’an dapat diketahui banyak sekali ayat yang memerintahkan manusia untuk memperhatikan alam semesta, mengkaji dan meneliti ciptaan Allah.[12] Disinilah sesungguhnya hakikat Iptek dari sudut pandang Islam yaitu pengkajian terhadap sunnatullah secara obyektif, memberi kemaslahatan kepada umat manusia, dan yang terpenting adalah harus sejalan dengan nilai-nilai keislaman.
Allah SWT. secara bijaksana telah memberikan isyarat tentang ilmu, baik dalam bentuk uraian maupun dalam bentuk kejadian, seperti kasus mu’jizat para Rasul. Manusia yang berusaha meningkatkan daya keilmuannya mampu menangkap dan mengembangkan potensi itu, sehingga teknologi Ilahiyah yang transenden ditransformasikan menjadi teknologi manusia yang imanen.[13]
Studi Al Qur’an dan Sunnah menunjukkan bahwa karena dua alasan fundamental, Islam mengakui signifikansi sains:
  1. Peranan sains dalam mengenal Tuhan
  2. Peranan sains dalam stabilitas dan pengembangan masyarakat Islam[14]
Dari sini dapat dilihat bahwa dalam Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan sebagai sarana untuk mengenal Allah dan juga untuk melaksanakan perintah Allah sebagai khalifatullah fil Ard sehingga sains tersebut harus membawa kemaslahatan kepada umat manusia umumnya dan umat Islam khususnya.
Melihat banyaknya jenis bentuk seni yang ada, maka ulama berbeda pendapat dalam memberi penilaian. Dalam hal menyanyi adan alat musik[15] saja jumhur mengatakan haram namun Abu Mansyur al Baghdadi menyatakan:"Abdullah bin Ja'far berpendapat bahwa menyanyi dan alat musik itu tidak masalah. Dia sendiri pernah menciptakan sebuah lagu untuk dinyanyikan para pelayan."[16]
Namun menurut Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati menyatakan bahwa seniman dan budayawan bebas melukiskan apa saja selama karyanya tersebut dinilai sebagai bernafaskan Islam.[17]
Melihat berkembangnya seni yang ada penulis memandang pendapat Quraish Shihab lebih araif dalam menyikapi perkembangan zaman yang mana kebutuhan masa kini tentu saja lebih komplek sifatnya dibandingkan dengan kebutuhan pada masa awal Islam.
D. Fakta Ipteks Dalam Al Qur’an
Setelah membahas ipteks dalam Islam secara global, disini akan dipaparkan beberapa fakta ilmiah dalam Al Qur’an. Al Qur’an merupakan satu-satunya mu’jizat yang tak lekang dimakan zaman. Al Qur’an ini bersifat universal untuk seluruh umat manusia.
Salah satu sifat asli Al-Qur’an yang membedakannya dari bible adalah bahwa untuk mengilustrasikan penegasan yang berulang-ulang tentang kemahakuasaan Tuhan, kitab tersebut merujuk kepada suatu keragaman gejala alam. [18]
Diantara aspek-aspek terpenting dari pemikiran ini, bahwa al-Qur'an berisi informasi tentang fakta-fakta ilmiah yang amat sesuai dengan penemuan manusia, yang diantaranya adalah sebagai berikut :
v Bahwa seluruh kehidupan berasal dari air
وجعلنا من الماء كل شئ حيّ (الأنبياء: 30)
v Bahwa alam semesta terbentuk dari gumpalan gas (di dalam al-Qur'an disebut dengan ad-Dukhan)
ثم استوى إلى السماء وهي دخان فقال لها وللأرض ائتيا طوعا أو كرها، قالتا ائتيا طائعين (فصلت: 11)
v Matahari dan bulan mempunyai ukuran dan perhitungan yang sesuai.
الشمس والقمر بحسبان (الرحمن: 5)
v Bahwa kandungan oksigen di udara akan semakin berurang di tempat-tempat yang tinggi
...ومن يرد أن يضله يجعل صدره ضيقا حرجا كأنما يصعد في السماء...(الأنعام: 124)
Selain fakta ilmiah yang disebutkan diatas juga tampak dari penamaan surat-surat dalam Al Qur’an antara lain: An-Nahl, An-Naml, Al-Hadid, Ad-Dukhan, An-Najm, Al-Qomar dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dari beberapa fakta ilmiah tersebut di dalam al-Qur'an, amatlah jelas bahwa al-Qur'an memberikan petunjuk kepada manusia tentang berbagai hal. Untuk mengetahui secara detail dan seksama, maka manusialah yang harus berusaha untuk memecahkan berbagai problematika keilmuan yang didapati dalam kehidupan ini dengan berlandaskan pada ajaran al-Qur'an. Dengan berlandaskan kepada al-Qur'an, manusia akan mengetahui hasil penelitiannya mengenai alam melalui "pengkomparasian (pencocokan)" dengan al-Qur'an", apakah sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh al-Qur'an atau sebaliknya[19].
Disamping contoh fakta ilmiah tersebut di atas, terdapat pula ayat yang mengisyaratkan tentang teknologi kepada umat manusia. Al-Qur'an tidak menghidangkan teknologi suatu ilmu yang murni dan lengkap, tetapi hanya menyinggung beberapa aspek penting dari hasil teknologi itu dengan menyebutkan beberapa kasus atau peristiwa teknik. Perlu diingat bahwa al-Qur'an bukan buku teknik sebagaimana juga ia bukan buku sejarah (walaupun banyak juga kisah di dalamnya), buka buku astronomi, fisika dan lain-lain, melainkan kitab suci yang berisi petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia.
Karenanya kalau al-Qur'an menyinggung masalah teknik umpamanya, maka maksudnya tidak lain adalah untuk menunjukkan bahwa al-Qur'an juga memberikan perhatian kepada masalah teknik dan menghimbau agar umat Islam memperhatikan dan mempelajari ilmu ini. Dalam hubungan ini, kita menemukan beberapa ayat yang berkaiatn dengan ilmu teknologi, diantaranya:
واصنع الفلك بأعيننا ووحينا (هود : 37)
Dan buatlah bahtera (kapal) dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami
Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membuat bahtera agar Nuh bersama dengan orang beriman selamat dari musibah air bah yang segera akan terjadi. Kapal Nabi Nuh boleh jadi kapal yang pertama di dunia, dibuat dengan pengawasan langsung dan petunjuk wahyu Allah.
Dengan ayat ini pula al-Qur'an telah mengemukakan dan meminta perhatian umat manusia akan salah satu cabang ilmu teknik yang paling urgen dalam hidup ini, yaitu tekhnik perkapalan. Tidak dapat disangkal, betapa pentingnya masalah perkapalan dalam hidup ini. Ia tidak saja merupakan alat perhubungan atau pelayaran yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya, akan tetapi ia juga sebagai alat pengangkutan yang sangat vital yang dapat mengangkut barang dagangan dalam jumlah yang sangat besar. Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa tidak ada perdagangan besar-besaran dan impor-export tanpa jika teknik perkapalan tidak ada[20]. Fakta ilmiah tersebut merupakan bukti bahwa relevansi al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan tekhnologi amatlah besar[21]. Dan masih banyak lagi fakta ilmiah yang terkandung dan tersirat dalam al-Qur'an.
Disamping banyak tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, Al-Qur'an juga membahas tentang seni, hal ini dapat dilihat pada firman Allah
وتنحتون من الجبال بيوتا فارهين (الشعراء: 149)
Ayat di atas menunjukkan seni pahat yang dilakukan oleh kaum nabi Shaleh yaitu memahat gunung untuk dijadikan rumah. Dalam ayat lain Allah berfirman:
واقصد في مشيك واغضض من صوتك , إن أنكر الأصوات لصوت الحمير (لقمان: 19)
Ayat di atas menunjukkan perlunya seni dalam berbicara yaitu dengan nada yang baik dan lemah lembut, tidak terlalu keras dan tidak terlalu lirih.
E. Realitas Ipteks Dalam Islam
Berbicara mengenai ipteks dalam Islam sebenarnya telah diajarkan oleh Allah masa-masa awal mula manusia. Hal ini dapat dilihat dari realitas yang ada pada masa Nabi Nuh dengan dibuatnya kapal yang pertama di dunia atas petunjuk Allah langsung, bahkan sejak Nabi Adampun telah ada ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat ketika Adam menyebutkan nama-nama benda yang ada di sekelilingnya.
Namun pada makalah ini, realitas ipteks dalam Islam akan dimulai pembahasannya pada masa Rasulullah SAW. Pengembangan Ilmu Pengetahuan pada masa Rasulullah SAW. dimulai dengan membuat tradisi baru yaitu mencatat dan menulis. Dan ini dilanjutkan pada masa Khulafaur Rasyidin dengan adanya inovasi-inovasi dalam berbagai bidang. Misalnya pada masa Umar bin Khattab dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan terjadilah dua gerakan yaitu gerakan perpindahan manusia, orang arab muslim keluar jazirah arab orang ajam dating kejazirah arab.[22]
Gerakan pengembangan ilmu ini semakin berkembang pada masa Umayyah Khalid Ibnu Yazid ibnu Muawiyah dilaporkan telah menggunakan jasa dari Istiphan al-Qadim dan lainnya untuk menerjemahkan karya-karya ilmu kedokteran dan boleh jadi ilmu kimia, farmatikal dan Matematika ke dalam Bahasa Arab. Penguasa lain yang menunjukkan perhatiannya dalam penerjemahannya terhadap beberapa ilmu pengetahuan di Alexandria dan Antioch adalah Umar Ibnu Abdul Aziz.[23]
Pada masa Abbasiyah pengembangan ilmu semakin pesat perkembangannya. Gelombang penerjemahan pada tahun 750-900 [24]yang dipelopori oleh khalifah al Manshur yang kemudian menjadi "air bah" pada masa khalifah al Ma'mun. Pada masa al Ma'mun berdirilah al Hikmah yang meupakan pusat pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Menurut Abdel Hamid Sabra, pakar sejarah sains dari universitas Harvard,[25] gerakan penerjemahan tersebut diatas mewakili fase pertama dari Islamisasi sains. Ia menyebutnya sebagai fase peralihan atau akuisisi, dimana sains Yunani memasuki wilayah peradaban Islam bukan sebagi penjajah (an invading force), melainkan sebagi tamu yang diundang (an invited guest). Proses ini terus berlanjut ke tahap berikutnya yang disebut dengan fase assimilasi atau naturalisasi. Pada tahap ini tuan rumah bukan sekedar menerima dan menikmati, tetapi juga mulai mampu meramu dan memasak hidangan sendiri, mencipta menu baru, membuat dan memasarkannya ke masyarakat luas. Fase selanjutnya yaitu fase kematangan yang berlangsung kurang lebih 500 tahun lamanya, ditandai dengan produktifitas yang tinggi dan orisinalitas yang luar biasa.
Adapun sebab-sebab kemajuan umat Islam pada masa itu Ali Kettani [26] menengarai lantaran didukung oleh semangat sebagai berikut:
1. Universalism. Universalisme artinya pengembangan iptek mengatasi sekat-sekat kesukuan, kebangsaan, bahkan keagamaan.
2. Tolerance. Toleransi artinya sikap tenggangrasa dalam pengembangan iptek dimaksudkan untuk membuka cakrawala di kalangan para ilmuan, sehingga perbedaan pendapat dipandang sebagai pemacu kea rah kemajuan, bukan sebagai pengahalang.
3. International character of the market. Pemasaran terhadap hasil-hasil iptek merupakan suatu wahana untuk menjamin kontinyuitas aktivitas ilmiah itu sendiri, karena itu pasar yang bersift internasional sangatlah dibutuhkan.
4. Respect for science and scientist. Penghargaan yang tinggi dalam arti, setiap temuan dihargai secra layak dan memadai sebagai hasil jerih-payah atau usaha seseorang atau kelompok orang.
5. The Islamic nature of both the ends and means of science. Sarana dan tujuan iptek haruslah terkait dengan nilai-nilai agama artinya, setiap kegiatan ilmiah tidak boleh bebas nilai, apalagi nilai agama.
Sedangkan menurut Syamsuddin Arif, jika dikaji dan di telusuri dengan teliti, faktor-faktor yang telah memungkinkan dan mendorong kemajuan sains di dunia Islam pada saat itu (masa keemasan) antara lain sebagai berikut: [27]
a. Kemurnian dan keteguhan dalam mengimani, memahami dan mengamalkan ajaran Islam (firm adherence to, understanding and practicing of true Islamic faith and teachings). Keimanan yang teguh, pemahamn yang memadai, dan kesungguhan dalam mempraktekkan ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam Al Qur’an dan Sunnah itu telah berhasil melahirkan individu-individu ‘siap tempur’ yang unggul secara mental maupun moralnya, dan pada gilirannya membentuk masyarakat madani yang Islami.
b. Adanya motivasi agama. Sebagaimana kita ketahui Kitab Suci Al Qur’an banyak berisi anjuran untuk menuntut ilmu, perintah agar kita membaca (iqra’), melakukan observasi (a-fala yarawna), eksplorasi (a-fala yanzuruna), dan ekspedisi (siru fi l-ardi), melakukan ‘inference to the best explanation’ dalam istilah falsafah sains kontemporer serta berfikir ilmih rasional (li-qawmin ya’qilun, yatafakkarun).
c. Adanya faktor sosial politik. Tumbuh dan berkembangnya budaya ilmu dan tradisi ilmiah pada masa itu dimungkinkan antara lain jika bukan terutama oleh kondisi masyarakat Islam yang meskipun terdiri dari bermacam-macam etnis (arab, parsi koptik, berber, turki dan lain-lain), dengan latar belakang bahasa dan budaya maing-masing, namun berhasil diikat oleh tali akidah Islam.
Setelah dunia Islam telah merasakan masa keemasannya, sampailah pada masa kemunduran. Kehancuran Islam dari panggung kemajuan diakhiri dengan tumbangnya Baghdad abad ke-13 M di tangan Mongolia dengan dihancurkannya hamper seluruh khazanah kebudayaan dan keilmuan. Pusat studi Islam dihancurkan, buku-buku dibakar dan sebagian disita. [28]
Para pakar banyak mengemukakan sebab-sebab kemunduran sains di dunia Islam. Diantaranya menurut Profesor Sabra, fase ini merupakan kelanjutan dari tiga fase yang telah disebutkan diatas. Proses ini disebutnya sebagai "appropriasi". Pada tahap ini aktifitas saintifik mengalami reduksi karena lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis.[29]
Sedangkan menurut David C. Lindberg [30] (1) oposisi kaum konservatif (2) krisis ekonomi dan politik (3) keterasingan dan keterpinggiran sebagai tiga faktor utama yang bertanggung jawab atas kemunduran sains di dunia Islam. Lain pula dengan apa yang diungkapkan oleh Parvez Hoodbhoy,[31] menurutnya teologi Ash ariyyah sebagai salah satu penyebab kemundura sains. Menurutnya doktrin teologi ini membuat kaum Muslim menjadi fatalistik, tidak berfikir rasional dan cenderung bersikap pasif dalam menyikapi fenomena dan realitas. Lebih jauh lagi Hoodbhoy menuduh imam al-Ghazali sebagai orang yang bertanggung jawab menghancurkan bangunan sains di dunia Islam.
Namun pendapat Hoodbhay tersebut tidak bisa dibenarkan karena aliran Ash 'ariyyah tidak bias disamakan dengan fatalistik, karena dalam ajarannya rasio juga mendapatkan porsi walaupun kedudukan wahyu tetap diutamakan. Selain itu tuduhannya terhadap al Ghazali juga tidak bisa kita telan begitu saja, karena sebenarnya yang dikritik oleh al Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah adalah sikap para ilmuan yang saat itu terlalu mendewakan sains bukan sains itu sendiri. Ini dapat dilihat dari nama kitabnya yaitu Tahafut al-Falasifah bukan Tahafut al-Falsafah.
Disamping itu menurut Cemil Agdogan[32] Al Ghazali, untuk pertama kalinya menghancurkan otoritas Aristoteles dan pada saat yang sana menabur bibit-bibit filsafat mekanika, fondasi metafisika untuk sains modern. Maka kontribusinya itu tidak hanya destruktif, tetapi juga konstruktif.
Pada masa kemunduran ini telah terjadi kejumudan dalam dunia intelektual Islam. Taqlid menjadi suatu tradisi yang sangat berkembang saat itu. Umat Islam tidak mampu mempertahankan kegemilangan yang telah diraihnya pada masa keemasannya, mereka hanya sekedar menirukan pendapat-pendapat pendahulunya tanpa mampu menelaah dengan kritis.
Namun perlu diketahui bahwasanya pada masa ini telah lahir beberapa ilmuan muslim antara lain: Ibnu Majah (1138), Ibnu Thufail (abad ke-12 M), Ibnu Rusd (lahir 1128 M).[33] Namun pemikiran mereka tidak mampu mengalahkan tradisi taqlid yang sudah mengakar.
Ditengah-tengah kejumudan yang terjadi di dunia Islam, muncullah upaya-upaya untuk memperbaharui cara berfikir umat Islam menuju paradigma purifikasi (pemurnian) praktek-praktek keagamaan yang menyimpang. Usaha ini dipelopori oleh Ibnu Taimiyah di penghujung abad ke-13 dan awal abad ke-14 M.[34] Diparuh abad ke-19 hingga awal abad ke-20 umat Islam mengenal modernisasi yang dari sini melahirkan ilmuan-ilmuan Muslim seperti Jamaluddin al Afghani, Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal dan masih banyak yang lainnya.
Gerakan ini terus berlanjut ketika umat Islam mulai bersentuhan dengan duni modern. Ada tiga respon umat Islam terhadap modernisasi yang terjadi. Pertama, golongan yang menolak dengan keras modernisasi. Kedua, golongan yang menelan mentah-mentah modernisasi. Ketiga, golongan yang menerima modernisasi dengan memfilter terlebih dahulu hal-hal yang tidak sejalan dengan pinsip-prinsip Islam.
Sebagaimana ilmu pengetahuan, seni dalam realitas dunia Islam juga sudah mengalami perkembangan yang cukup signifikan, Al-Qur'an sendiri jika dilihat dari kacamata seni merupakan sebuah karya seni yang maha agung, yang nilai satranya tidak ada yang mampu menandingi.
Khilafah Islam terdahulu tidak pernah melarang rakyatnya mempelajari seni suara dan musik. Mereka dibiarkan mendirikan sekolah-sekolah musik dan membangun pabrik alat-alat musik. Perhatian ke arah pendidikan musik telah dicurahkan sejak akhir masa Daulah Umawiyah, yang kemudian dilanjutkan pada masa kekhalifahan Abbasiyah sehingga di berbagai kota banyak berdiri sekolah musik dengan berbagai tingkat pendidikan, mulai dari tingkat menengah sampai tingkat perguruan tinggi.[35]
Catatan tentang kesenian umat Islam banyak disebut orang. Para penemu dan pencipta alat musik Islam juga cukup banyak jumlahnya, yang muncul sejak pertengahan abad kedua hijriah, misalnya Yunus al-khatib yang meninggal tahun 135 H, Khalil bin Ahmad (170 H), Ibnu An-Nadiem Al-Naushili (235 H), Hunain Ibnu Ishak (264 H), dan lain-lain.[36]
F. Analisa
Hingga saat ini para pakar-pakar Islam sedang berusaha keras merebut kembali kejayaan Islam yang pernah dirasakan oleh umat Islam pada masa silam. Sebagai analisa disini penulis melihat perlu adanya rencana kerja yang harus dilakukan oleh umat Islam pada umumnya dan pakar-pakar Islam pada khususnya.
Setelah penulis melakukan berbagai pembacaan, maka dapat penulis rumuskan beberapa langkah konkrit yang harus ditempuh oleh imat Islam, antara lain:
1. Sebagai langkah awal umat Islam tidak boleh menutup mata dari produk ipteks barat. Artinya selama ipteks itu mendatangkan maslahat bagi umat manusia maka harus dipelajari. Baik itu datangnya dari barat ataupun ilmu yang dilahirkan dari dunia Islam sendiri.
2. Ilmu dalam Islam tidak bebas nilai. Artinya ipteks haruslah mempunyai nilai-nilai moral dan terutama nilai-nilai religi.
3. Pengembangan ipteks tersebut haruslah menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Konsep yang diajukan diatas diperkuat oleh beberapa pakar Islam. Antara lain: Menurut Mahdi Ghulsyani dalam bukunya Filsafat Sains Menurut Al Qur’an, mengajukan usulan-usulan berikut ini:
  1. Seperti para ulama dan ilmuan abad-abad pertama zaman Islam, kita harus mempelajari seluruh ilmu yang berguna dari orang lain.
  2. Bentuk gabungan yang ada diantara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu kealaman selama hari-hari puncak Islam harus dibangun kembali, karena sebagaimana telah ditunjukkan bahwa antara titik akhir agama dan ilmu-ilmu kealaman tidak ada konflik.
  3. Untuk mencapai kemerdekaan penuh umat Islam, negara-negara muslim perlu mengambil langkah-langkah untuk melatih para spesialis didalam segala bidang keilmuan dan industri yang penting.
  4. Penyelidikan ilmiah harus dipikirkan sebagai sebuah pencarian penting dan mendasar, dan bukanlah pencarianyang sekedarnya.
  5. Harus ada kerjasama antarnegara Muslim dalam masalah riset teknologi dan keilmuan.[37]
Sedangkan Isma’il Raji al Faruqi dengan konsep Islamisasi pengetahuan mengajukan rencana kerja sebagai berikut:
  1. Penguasaan disiplin ilmu modern.
  2. Penguasaan khasanah Islam.
  3. Penentuan relevansi Islam bagi masing-masing bidang ilmu modern.
  4. Pencarian sintesa kreatif antara khasanah Islam dengan ilmu modern.
  5. Pengarahan aliran-aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah SWT.[38]
Beberapa usulan yang ditawarkan oleh Mahdi Ghulsyani dan Isma’il Raji al Faruqi pada dasarnya merupakan tawaran yang konkrit dan sebenarnya intinya sama namun al Faruqi lebih ditekankan pada ilmu pengetahuannya sedangkan Ghulsyani aspek teknologi juga diperhatikan sehingga adanya kerjasama antar Negara-negara muslim adalah suatu keniscayaan.
G. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpilan sebagai berikut:
  1. ilmu pengetahuan merupakan kumpulan beberapa pengetahuan manusia tentang alam empiris yang disusun secara logis dan sistematis. Teknologi merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan tersebut, yang tujuan sebenarnya adalah untuk kemaslahatan manusia. Seni merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera.
  2. Ipteks dalam Islam tidak boleh lepas dari nilai-nilai religi dan yang pasti tujuannya adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  3. Sebenarnya antara agama dalam hal ini Islam tidak ada pertentangan sama sekali, bahkan di Al Qur’an banyak disinggung ayat-ayat yang berbicara tentang ipteks.
  4. Dalam realitas sejarah, dunia intelektual Islam pernah menikmati masa keemasannya, demikian juga dengan seni.
  5. Untuk meraih kembali masa kegemilangan tersebut maka diperlukan langkah-langkah kongkrit antara lain dengan mempelajari iptek yang tujuannya untuk kemaslahatan manusia, dan yang utama adalah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah sehingga ipteks tidak bebas nilai.

DAFTAR PUSTAKA
Agdogan, Cemil. Islamia: Majalah Pemikiran Dan Peradaban Islam. INSISTS. Jakarta. Thn I No 4, Januari-Maret 2005.
Al Faruqi, Isma’il Raji. Islamisasi Pengetahuan. Pustaka. Bandung. 1984
Al Baghdadi, abdurrahman. Seni Dalam Pandangan Islam: Seni Vocal, Musik & Tari. Gema Insani Press. Jakarta. 1991
Amsari, Fuad. Islam Kaaffah: Tantangan Sosial Dan Aplikasinya Di Indonesia. Gema Insani Press. Jakarta. 1995.
Arif, Syamsuddin. Islamia: Majalah Pemikiran Dan Peradaban Islam. INSISTS. Jakarta. Thn I No 6, Juli September 2005.
Bucaille, Maurice. Asal Usul Manusia: Menurut Bibel AL-Quran Sain. Mizan Bandung. 1998.
Butt, Nasim. Sains dan Masyarakat Islam. Pustaka Hidayah. Bandung. 2001.
Federspiel, Howard M. Kajian Al-Qur'an di Indonesia. Mizan. Bandung. 1996.
Gani, Bustami A & Umam, Chatibul (ed). Beberapa Aspek Ilmiah tentang Al-Qur'an, PTIQ, Jakarta, 1986.
Ghuslsyani, Mahdi. Filsafat-Sains Menurut AL-Quran. Mizan. Bandung. 1998.
Hartoko, Dick. Manusia Dan Seni. Kanisius. Yogyakarta. 1993
Komaruddin. Kamus Riset. Angkasa. Bandung. 1987.
Muntasyir, Rizal & Munir, Misnal. Filsafat Ilmu. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2001
Mushoffa Imam, & Musbikin, Aziz. Kloning Manusia Abad XXI ; Antara Harapan, Tantangan Dan Pertentangan.Forum Studi Himanda.Yogyakarta. 2001.
Nakosteen, Mehdi. Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat : Diskripsi Analisis Abad Keemasan Islam. Risalah Gusti. Surabaya. 1996.
Nasution, Harun. Islam Rasional. Mizan. Bandung. 1995.
Nurhakim, Moh. Metodologi Studi Islam. UMM Press. Malang. 2004.
Rais, M.Amin. Cakrawala Islam : Antara Cita Dan Fakta. Mizan. Bandung. 1999.
Shihab, M. Quraish. Lentera Hati: kisah Hikmah Dan Kehidupan. Mizan. Bandung. 1999.
Soejoeti, Zalbawi, et.al.. Al-Islam & Iptek, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1998.
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Kencana. Jakarta Timur. 2003.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Dep Dik Bud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka .Jalarta 1999.
Tim Penyusun ensiklopedia indonesia. Ensiklopedia Indonesia. PT. Ikhtiar Baru-Van Hoeve. Jakarta. jilid V


[1] Mahdi Ghulsyani,. Filsafat-Sains Menurut AL-Quran. Mizan. Bandung. 1998. h: 57
[2] Imam Mushoffa, Aziz.Musbikin. Kloning Manusia Abad XXI; Antara Harapan, Tantangan Dan Pertentangan. Forum Studi Himanda.Yogyakarta. 2001. h: XII
[3] Zalbawi Soejoeti,. et.al.. Al-Islam & Iptek, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1998. h: XIII
[4] Tim Penyusun Kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka .Jalarta 1999. h:371
[5] Zalbawi Soejoeti, Op.Cit., h: 148
[6] M.Amin Rais. Cakrawala Islam : Antara Cita Dan Fakta. Mizan. Bandung. 1999. h: 108
[7] Komaruddin. Kamus Riset. Angkasa. Bandung. 1987. h: 275-276.
[8]Zalbawi Soejoeti, et.al.. Op.Cit., h: 150
[9] Tim Penyusun ensiklopedia indonesia, Ensiklopedia Indonesia, PT. Ikhtiar Baru-Van Hoeve, Jakarta, jilid V,. h: 3080-3081
[10] Dick Hartoko, Manusia Dan Seni, Kanisius, Yogyakarta, 1993. h: 16
[11] Harun Nasution. Islam Rasional. Mizan. Bandung. 1995. h: 292
[12]Fuad Amsari. Islam Kaaffah: Tantangan Sosial Dan Aplikasinya Di Indonesia. Gema Insani Press. Jakarta. 1995. h:70
[13] Imam Mushoffa, Aziz.Musbikin. Loc.Cit.
[14]Mahdi Ghulsyani. Op.Cit., h: 62
[15] Untuk penjelasan lebih lengkap lihat buku Abdurrahman Al-Baghdadi. Seni Dalam Islam: Seni Vokal, Musik & Tari. Gema Insani Press. Jakarta. 1991
[16] Abdurrahman Al-Baghdadi. Seni Dalam Islam: Seni Vokal, Musik & Tari. Gema Insani Press. Jakarta. 1991. h: 21
[17] M. Quraish Shihab. Lentera Hati: kisah Hikmah Dan Kehidupan. Mizan. Bandung. 1999. h: 371
[18] Maurice Bucaille. Asal Usul Manusia: Menurut Bibel AL-Quran Sain. Mizan Bandung. 1998. h: 195
[19] Nasim Butt. Sains dan Masyarakat Islam. Pustaka Hidayah. Bandung. 2001. h: 60.
[20] Bustami A Gani & Chatibul Umam (ed). Beberapa Aspek Ilmiah tentang al-Qur'an, PTIQ, Jakarta, 1986. h : 162.
[21] Howard M. Federspiel. Kajian Al-Qur'an di Indonesia. Mizan. Bandung. 1996. h: 233.
[22] Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Kencana. Jakarta Timur. 2003. h: 29.
[23]Mehdi Nakosteen. Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat : Diskripsi Analisis Abad Keemasan Islam. Risalah Gusti. Surabaya. 1996. h:208
[24] Musyrifah Sunanto. Op.Cit., h: 79
[25] A.E. Sabra dalam Syamsuddin Arif. Islamia: Majalah Pemikiran Dan Peradaban Islam. INSISTS. Jakarta. Thn I No 6, Juli September 2005. h: 88
[26] Ali Kettani. 1984. h: 85 dalam Rizal Muntasyir & Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2001 h:129
[27] Syamsuddin Arif. Op.Cit., h: 89
[28] Moh Nurhakim. Metodologi Studi Islam. UMM Press. Malang. 2004. h: 160.
[29]Syamsuddin Arif. Op.Cit., h: 91
[30] David C. Lindberg dalam Ibid.
[31] Parvez Hoodbhoy dalam Ibid, h: 93
[32] Cemil Agdogan. Islamia: Majalah Pemikiran Dan Peradaban Islam. INSISTS. Jakarta. Thn I No 4, Januari-Maret 2005. h: 95
[33] Moh Nurhakim. Op.Cit., h: 162.
[34] Moh Nurhakim. Ibid, h: 163.
[35] Abdurrahman Al-Baghdadi. Op.Cit. h: 97
[36] Ibid. h: 97-98
[37] Mahdi Ghuslsyani. Op.Cit., h:60-61
[38] Isma’il Raji al Faruqi. Islamisasi Pengetahuan. Pustaka. Bandung. 1984. h: 98